Ekspansi Visibilitas Ekologis dalam Wacana Program Makan Bergizi Gratis: Kajian Ekolinguistik Kritis

  • Kabiba Kabiba Universitas Muhammadiyah Kendari, Kendari, Indonesia
  • Hasmira Said Universitas Muhammadiyah Kendari, Kendari, Indonesia
  • Nurzaima Nurzaima Universitas Muhammadiyah Kendari, Kendari, Indonesia
  • Junaidin Junaidin Universitas Muhammadiyah Kendari, Kendari, Indonesia
  • Budi Hartono UPTD SMP Negeri 2 Budong-Budong, Indonesia
Keywords: Makanan Bergizi Gratis, ekolinguistik kritis, sistem pangan, visibilitas ekologis, keberlanjutan, literasi ekologis

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan pangan dan gizi berskala nasional yang dalam komunikasi institusionalnya tidak hanya mengonstruksi gizi gizi, tetapi juga menghadirkan pangan lokal, rantai pasok, ketahanan pangan, krisis iklim, limbah, dan sirkular ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana aktor, pangan, dan lingkungan direpresentasikan dalam wacana resmi MBG; mengidentifikasi bagaimana pembingkaian, arti-penting, penghapusan, identitas, evaluasi , dan keyakinan bekerja dalam membangun visibilitas ekologis; serta menjelaskan orientasi ekologis yang direproduksi melalui pola tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif ekolinguistik kritis terhadap delapan dokumen dan berita resmi Badan Gizi Nasional (BGN) yang terbit pada tahun 2025–2026. Data dipilih secara tujuan berdasarkan variasi tema yang mewakili hulu, konsumsi, dan pascakonsumsi, dan diperlakukan sebagai korpus terbatas, bukan representasi keseluruhan wacana MBG. Analisis menggunakan konsep cerita yang kita jalani oleh Stibbe dengan ekosistem ekosistem relasional sebagai dasar evaluasi ekologis. Hasil menunjukkan tiga pola utama. Pertama, kerangka penyediaan gizi tetap dominan, namun kesenjangan menuju sistem pangan melalui representasi rantai pasok, pangan lokal, dan aktor hulu. Kedua, visibilitas ekologis meningkat melalui isu krisis iklim dan limbah, tetapi berlangsung secara merata sehingga tanah, udara, energi, keanekaragaman hayati, dan sebagian dampak produksi masih relatif dilatarbelakangi. Ketiga, isu limbah bergerak dari objek yang dipromosikan dalam narasi inovasi menuju tanggung jawab kelembagaan melalui modalitas kewajiban seperti “wajib”. Temuan ini menunjukkan bahwa wacana MBG lebih tepat dipahami sebagai keanekaragaman antroposentris ekologis yang mengalami ekspansis (keberlanjutan antroposentris mengalami perluasan ekologi) , bukan sebagai pergeseran penuh menuju ekosentrisme. Secara pedagogis, temuan tersebut menawarkan dasar konseptualisasi untuk pengembangan pembacaan kritis-ekologis terhadap teks autentik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Badan Gizi Nasional. (2025a, 20 Maret). Program MBG libatkan rantai pasok pangan lokal. https://www.bgn.go.id/news/berita/program-mbg-libatkan-rantai-pasok-pangan-lokal

Badan Gizi Nasional. (2025b, 10 September). Menu MBG disesuaikan dengan potensi pangan daerah. https://www.bgn.go.id/news/berita/menu-mbg-disesuaikan-dengan-potensi-pangan-daerah

Badan Gizi Nasional. (2025c, 1 Oktober). MBG jadi penggerak ekonomi dan kedaulatan pangan. https://www.bgn.go.id/news/berita/mbg-jadi-penggerak-ekonomi-dan-kedaulatan-pangan

Badan Gizi Nasional. (2025d, 2 Oktober). Pangan lokal jadi kunci ketahanan Program MBG. https://www.bgn.go.id/news/berita/pangan-lokal-jadi-kunci-ketahanan-program-mbg

Badan Gizi Nasional. (2025e, 2 Oktober). Pangan lokal dinilai adaptif hadapi krisis iklim. https://www.bgn.go.id/news/berita/pangan-lokal-dinilai-adaptif-hadapi-krisis-iklim

Badan Gizi Nasional. (2025f, 5 Desember). BGN puji SPPG Margomulyo Seyegan, limbah MBG disulap jadi bio solar dan pupuk. https://www.bgn.go.id/news/artikel/bgn-puji-sppg-margomulyo-seyegan-limbah-mbg-disulap-jadi-bio-solar-dan-pupuk

Badan Gizi Nasional. (2026a, 19 Maret). Aturan baru, Kepala BGN tekankan pengelolaan sampah MBG wajib berbasis ekonomi sirkular. https://www.bgn.go.id/news/berita/aturan-baru-kepala-bgn-tekankan-pengelolaan-sampah-mbg-wajib-berbasis-ekonomi-sirkular

Badan Gizi Nasional. (2026b, 19 Maret). BGN terbitkan aturan baru, SPPG tak hanya masak tapi wajib kelola limbah. https://www.bgn.go.id/news/berita/bgn-terbitkan-aturan-baru-sppg-tak-hanya-masak-tapi-wajib-kelola-limbah

Béné, C., Oosterveer, P., Lamotte, L., Brouwer, I. D., De Haan, S., Prager, S. D., Talsma, E. F., & Khoury, C. K. (2019). When food systems meet sustainability–Current narratives and implications for actions. World Development, 113, 116–130.

Chambers, J. (2015). Developing critical literacy skills through using the environment as text. Language and Literacy.

El Bilali, H., Callenius, C., Strassner, C., & Probst, L. (2019). Food and nutrition security and sustainability transitions in food systems. Food and Energy Security, 8(2), e00154.

Feng, L., Luo, R., Liu, X., Prescott, M. P., Li, W., Song, J., & Yang, Y. (2024). Global school plate waste estimates highlight the need for building a sustainable food education system. Nature Food, 5(10), 860–868.

Juskaite, G., & Haug, R. (2023). Multiple meanings of “equitable food systems”: food systems and discursive politics of change. Frontiers in Sustainable Food Systems, 7, 1127562.

Kelinsky-Jones, L. R., Niewolny, K. L., & Stephenson Jr, M. O. (2023). Building agroecological traction: Engaging discourse, the imaginary, and critical praxis for food system transformation. Frontiers in Sustainable Food Systems, 7, 1128430.

Nervino, E., Cheung, J. O., & Chen, J. (2024). Charting the path of sustainability discourse research: A systematic review of applied linguistic studies. International Journal of Applied Linguistics, 34(3), 862–883.

Nurkhamidah, N., Lustyantie, N., & Murtadho, F. (2025). Developing a Critical Reading Assessment Specification Infused with Ecological Literacy for Higher Education. IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature, 13(1), 2601–2622.

Poole, R. (2016). A corpus-aided ecological discourse analysis of the Rosemont Copper Mine debate of Arizona, USA. Discourse & Communication, 10(6), 576–595.

Silvhiany, S., Purwandani, E., Inderawati, R., & Sari, A. P. (2026). Climate-Integrated EFL Instruction: A Design-Based Study to Develop Ecoliteracy and Scientific Reading Comprehension. LEARN Journal: Language Education and Acquisition Research Network, 19(2), 357–383.

Stibbe, A. (2014). An ecolinguistic approach to critical discourse studies. Critical Discourse Studies, 11(1), 117–128.

Stibbe, A. (2015a). Ecolinguistics: Language, ecology and the stories we live by. Routledge.

Stibbe, A. (2015b). Ecolinguistics: Language, ecology and the stories we live by. Routledge.

Suhandano, S., & Febrina, R. (2023). Contesting “growth” and “sustainability” in Indonesia’s capital city relocation: A corpus ecolinguistic study. Journal Theoretical and Applied Linguistics, 9(3), 65–83.

Suprapto, F. A., Praditya, E., Dewi, R. M., & Adiyoso, W. (2025). A policy implementation review of the free nutritious meal (MBG) program. The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning, 6(2), 297–312.

Yahya, M., & Roselani, N. G. A. (2024). Representations of human domination in climate policy documents: A transitivity analysis. IALLTEACH (Issues In Applied Linguistics & Language Teaching), 6(1).

Yuniawan, T., Rokhman, F., Rustono, & Mardikantoro, H. B. (2023). An eco-linguistic analysis of conservation news published by mass media in Indonesia. Cogent Arts & Humanities, 10(1), 2174519.

Published
2026-09-30
How to Cite
Kabiba, K., Said, H., Nurzaima, N., Junaidin, J., & Hartono, B. (2026). Ekspansi Visibilitas Ekologis dalam Wacana Program Makan Bergizi Gratis: Kajian Ekolinguistik Kritis. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 6(3), 4458-4470. https://doi.org/10.53769/deiktis.v6i3.4395
Section
Articles