KEARIFAN LOKAL PELA GANDONG SEBAGAI TANDA PERDAMAIAN MASYARAKAT
Abstract
Masyarakat Indonesia memiliki banyak kearifan lokal yang berupa prinsip-prinsip dalam bentuk keyakinan yang berfungsi untuk menjaga ketentraman dan perdamaian. Keraifan-kearifan lokal ini masih banyak yang selaras dengan keyakinan atau prinsip-prinsip dalam agama dan hal ini perlu dipelajari dan dihayati kembali oleh para generasi pelanjut. Dalam penelitian ini akan mengupas kearifan lokal yang berasal dari daerah Maluku Tengah pada umumnya dan Ambon pada khususnya terkenal budaya lokal pela gandong. Prinsip kearifan lokal ini sebagai sarana warisan leluhur sebagai suatu usaha mempersatukan dan menjaga perdamaian antar komunitas di dalam masyarakat. Beberapa dekade tahun belakangan ini pela gandong dianggap sebagai suatu solusi atas masalah sosial kemasyarakatan yang terjadi khususnya di masyarakat Ambon dan Maluku Tengah pada umumnya. Secara realita prinsip pela gandung ini telah berhasil efektif untuk menyelesaikan problematika sosial yang terjadi di Ambon.
Artikel ini mengupas pela gandong dengan menggunakan teori semiotika Roland Gérard Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peranan pela gandong yang merupakan prinsip kearifan lokal sebagai tanda perdamaian di masyarakat Ambon. Data pendukung diperoleh dari berita media online tentang fenomena pela gandong di masyarakat. Data dianalisis menggunakan analisis semiotika Roland Gérard Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pela gandong memiliki makna pertama yang dipahami bersama sebagai hubungan saudara dan makna keduanya adalah persaudaraan sejati. Konsep persaatuan sejati ini akhirnya berfungsi sebagai prinsip untuk mendamaikan dan semakin mempererat persatuan masyarakat Ambon dan Maluku walau berbeda latar belakang agamanya. Rekomendasi dari penelitian ini adalah bahwa masyarakat sebaiknya melibatkan kearifan lokal seperti pela gandong ini sebagai bahasa tanda yang bisa diterima secara umum sehingga makna yang dipahami bersama ini dapat menumbuhkan rasa percaya, rasa kebersamaan dan ketentraman hingga terwujudnya perdamaian diantara anggota masyarakat.
Downloads
References
Ali, Muhammad. (2007). Confrontation and Reconciliation Muslim Voices of Maluku Conflict. The University of California Riverside, USA. Journal of Indonesian Islam. Volume 01, Number 02, December.
A.S., Juanrico, Titahelu, Irwansyah, Hamid Awaluddin, Muhammad Ashri. (2015). Strengthening Pela Gandong Alliance of John Rawls’ Theory of Justice. Volume 1, Issue 3 December. PP. Halrev. Faculty of Law, Hasanuddin University Makassar. South Sulawesi Indonesia. http://pasca.unhas.ac.id/ojs/index.php/halrev.
Alganih, Igneus. (2016). Konflik Poso (Kajian Historis Tahun 1998-2001). Jurnal Riksetra, Volume 5, Nomor 10, Agustus.
Barthez, Roland. (1986). Elements of Semiology. Translated from the French by Annette Lavers and Collin Smith and Wang. New York. Eleventh Printing.
Commonwealth of Australia. (2001). Internal Conflict in Indonesia: Causes, Symptoms, and Sustainable Resolution. Information and Research Service. Department of Parliamentary Library.
Chandler, Daniel. (2007). The Basic Semiotics. Second Edition. London and New York. Routledge Taylor & Francis Group
Cobley. Paul. (Ed). (2010). The Routledge Companion to Semiotics. London and New York. Routledge Taylor & Francis Group
Cinu, Surahman. (2016). Agama, Militerisasi dan Konflik (Kasus Poso, Sulawesi Tengah). Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 15, No. 1, Januari-Juni.
Dandirwalu, Resa. (2014). Totem Ambon Manise: Membongkar Segregasi Territorial Berbasis Agama di Kota Ambon. Antropologi Indonesia Vol. 35. No. 1.
Godlif, Yakob, Malatuny dan Samuel Patra Ristiauw. (2018). Eksistensi Pela Gandong Sebagai Civic Culture dalam Menjaga Harmonisasi di Maluku. Sosio Didaktika: Social Science education Journal. 5 (2). http://journal.uinjkt.ac.id/indexphp/SOSIO-FITK.
Gatra.com. (2019). Budaya, Solusi, Pencegahan Konflik Sosial di Maluku Tengah. https://www.gatra.com/detail/news/435843/milenials/budaya-solusi-pencegahan-konflik-sosial-di-maluku-tengah. 7 Agustus 2019.
Gatra.com. (2019). Wagub Maluku Ingatkan Budaya Pela Gandong Sebagai Pemersatu. https://www.gatra.com/detail/news/452091/milenial/wagub-maluku-ingatkan-budaya-pela-gandong-sebagai-pemersatu. 20 Oktober 2019.
Human Right. (2002). Human Right Watch. Breakdown: four Years of Communal Violence in Central Sulawesi. Indonesia. New York City: DOI. 10. 1163
Huberto, Elsino Aponno. (2017). Budaya Lokal Maluku Pelo Gandong dalam Konteks Perilaku Organisasi. Jurnal Manajemen. Vol. 03 No. 01 February ISSN 2339-1502.
Kumparan.com. (2018). Mengenal Panas Pela, Budaya Persaudaraan Orang Maluku. https://kumparan.com/ambonnesia/mengenal-panas-pela-budaya-persaudaraan-orang-maluku. 1 Februari 2018.
Kumparan.com. (2019). Walikota Ambon Berbagi Tips Soal Kota Toleran di UNIKA Semarang. https://kumparan.com/ambonnesia/walikota-ambon-berbagi-tips-soal-kota-toleran-di-unika-semarang-1rks6jzaYmf. 27 Agustus 2019
Muslim, Abu. (2013). Artikulasi Religi Sajak-Sajak Basudara di Maluku. (Brotherhood Verses in Religious Articulation of Moluccas). Jurnal Al-Qalam Volume 19 Nomor 2 Desember.
Malinsgorar, Julia dan Besse Sugiswati. (2017). Pela Gandong Sebagai sarana Penyelesaian Konflik. Perspektif. Volume 22 No 1 Edisi Januari.
Malkan dan Adam. (2017). Dinamika Konflik di Kabupaten Poso. Istiqra, Jurnal Penelitian Ilmiah, Vol. 5, No. 1, Juni 2017, LP2M IAIN Palu.
Nanny. (Unanimi). Konflik Poso dan Upaya Penanggulangannya.
Piris, Sammy dan Sonny Tilaar. (Unanimi). Graha Wisata Adat Pela gandong di Maluku (Simbiosis Mutualisme).
Pos-Kupang.com. (2019). Peduli Korban Gempa di Ambon, Komunitas Pela gandong NTT Gelar Penggalangan Dana. https://kupang.tribunnews.com/2019/10/20/peduli-korban-gempa-di-ambon-komunitas-pela-gandong-ntt-gelar-penggalangan-dana. Minggu 20 Oktober 2019.
Raharjo, Wasisto. (Unanimi). Budaya Lokal Sebagai Resolusi Konflik Keagamaan. Walisongo. Volume 21, Nomor 2, November.
Radiodms. (2019). Warga Lateri Berikan Bantuan Kemanusiaan Kepada Pela di Mamala. https://radiodms.com/berita-maluku/ambon/warga-lateri-berikan-bantuan-kemanusiaan-kepada-pela-di-mamala/ 10 Desember 2019.
Suparlan, Pursudi. (2006). Konflik Sosial dan Alternatif Pemecahannya. Antropologi Indonesia. Vol. 30 No. 2.
SB, Tonny Hoedodo, Joko Surjo, Zuly Qodir. (2013). Local Political Conflict and Pela Gandong Amidst the Religious Conflict. Journal of Government and Politics. Vol. 4 No. 2 August.
Surajiyo. (2016). Efektifitas Penyelesaian Konflik Secara Damai. Conference on Management and behavioral Studies. ISSN No. 2541-3400 e-ISSN No. 2541-2850.
Santoso, Bend Abidin. (2017). Peran Media dalam Mencegah Konflik. Jurnal Aspikom. Volume 3 No. 2, January; hlm 199-214.
Tualekaran, Hamzah. (Uninimi). Kearifan Lokal Pela-Gandong di Lumbung Konflik. http:/?
Titaley, Elsina, Sanggar Kanto, Darsono, Wisadirana, Mardiyono. (2018). Pelo dan Gandong Culture as Basic of A Network Formation for Poverty Alleviation in the Village. Advances in Social Sciences Research Journal Vol. 5., No. 3, 25 March. DOI: 10.14738/assrj.53.4247
TerasMaluku.com. (2019). KKR Aceh Belajar Pemulihan Pasca Konflik dari Ambon. https://terasmaluku.com/kkr-aceh-berlajar-pemulihan-pasca-konflik-dari-ambon. 27 Juni 2019.
Wenno, IH dan Wilma Akihari. (2010). Kebutuhan Model Budaya Pela Gandong Berbasis Pembangunan di Provinsi Maluku. Lingua. Volume 5, Nomor 2 Desember. ISSN 1693-4725.
Copyright (c) 2020 Muhammad Hasby, Edi Wahyono

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
By submitting the manuscript of the article, the authors agree with this policy with no specific document sign-off required.
The authors certify that:
- if the manuscript is co-authored, they are authorized by their co-authors to enter into these arrangements.
- the work described has not been formally published before in a registered ISSN or ISBN media, except in the form of an abstract or as part of a published lecture, review, or thesis.
- it is not under consideration for publication elsewhere,
- its publication has been approved by all the author(s) and by the responsible authorities – tacitly or explicitly – of the institutes where the work has been carried out.
- they secure the right to reproduce any material that has already been published or copyrighted elsewhere (it does not infringe the rights of others).
- they agree to Dosen Muslim Indonesia license and copyright agreement.
All articles published by Dosen Muslim Indonesia are licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
License and Copyright Agreement
- Authors retain copyright and other proprietary rights related to the article.
- Authors retain the right and are permitted to use the substance of the article in own future works, including lectures and books.
- Authors grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution License (CC BY-NC-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in Dosen Muslim Indonesia.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in Dosen Muslim Indonesia.
- Authors are permitted and encouraged to post or self-archive their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.
