Elusidatori: Kritik Sosial dan Dekonstruksi Kuasa dalam Puisi “Tuhan Di Kedai Kopi”

  • M. Amin Azzaki Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Ikhwanuddin Nasution Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Dardanila Dardanila Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
Keywords: kritik sosial, puisi, dekonstruksi kuasa, kritik elusidatori, Tuhan Di Kedai Kopi

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kritik sosial dan dekonstruksi simbol kuasa dalam puisi “Tuhan di Kedai Kopi” karya Aan Mansyur melalui pendekatan kritik elusidatori. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa larik-larik puisi yang memuat simbol kekuasaan, pengalaman religius, dan refleksi sosial. Analisis dilakukan melalui empat tahapan kritik sastra menurut Suroso, yaitu deskripsi, interpretasi, analisis, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi ini menampilkan simbol “tuhan” secara ambivalen, yakni sebagai representasi religius sekaligus metafora kekuasaan duniawi. Kedai kopi dalam puisi berfungsi sebagai ruang publik informal yang mempertemukan berbagai suara masyarakat mengenai penderitaan, keraguan, dan pengalaman hidup sehari-hari. Melalui penggunaan metafora, citraan, serta struktur puisi bebas, teks ini menghadirkan kritik terhadap kekerasan struktural dan krisis makna dalam kehidupan sosial. Selain itu, bagian akhir puisi memperlihatkan bahwa aktivitas menulis puisi dipahami sebagai upaya simbolik untuk merebut kembali bahasa dan memulihkan makna pengalaman manusia. Hasil perbandingan dengan puisi “Sajak Doa Untuk Jakarta” karya W. S. Rendra menunjukkan bahwa kedua puisi sama-sama memadukan tema religius dan kritik sosial, tetapi berbeda dalam skala persoalan dan strategi estetik. Rendra menampilkan kritik secara deklaratif dan kolektif, sedangkan Mansyur menghadirkannya secara reflektif melalui pengalaman personal. Dengan demikian, puisi “Tuhan di Kedai Kopi” memperlihatkan bahwa puisi kontemporer dapat menjadi medium refleksi eksistensial sekaligus ruang kritik sosial terhadap relasi kuasa dalam masyarakat.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anggraini, N. P., & Falah, F. (2024). Kritik sosial pada puisi “Aku Tulis Pamplet Ini” karya W.S. Rendra dan puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul (pendekatan sastra bandingan). Jurnal Wicara, 3(1), 11–19.
Chervinnita, V., Salmaa, A., & Azmin, G. G. (2021). Kritik sosial dalam puisi Dari Catatan Seorang Demonstran (Taufiq Ismail) dan puisi Sikap (Wiji Thukul). Seulas Pinang: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(2), 18–24.
Didipu, H. (2021). Kritik sastra: Tinjauan teori dan contoh implementasi. Zahir Publishing.
Fauziah, N., Pulukadang, W. T., Monoarfa, F., Husain, R., & Husain, R. I. (2025). Meningkatkan kemampuan menulis puisi menggunakan media gambar pada siswa kelas IV SD Negeri. Jurnal P4I, 5(1), 67–76. (Catatan: halaman akhir diperbaiki secara logis dari 67–6 menjadi 67–76)
Mansyur, M. A. (2020). Mengapa luka tidak memaafkan pisau. Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, G., Rahmawati, P., Murod, M., & Setiyaningsih, D. (2023). Hubungan lingkungan sekolah dengan karakter sopan santun siswa. Jurnal Pendidikan Transformatif (Jupetra), 2(1), 91–99.
Sikhatun, N. S. U. (2023). Ketidakadilan gender dan bentuk perlawanan tokoh perempuan dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye: Kajian kritik sastra feminis (Skripsi sarjana, Universitas Tidar). Repository Universitas Tidar.
Van Delzen, J. C. N., & Lestuny, C. (2024). Analisis unsur intrinsik puisi “Erlkönig“ karya Johann Wolfgang von Goethe. Erfolgreicher Deutschunterricht, 4(1), 64–70.
Published
2026-03-29
How to Cite
Azzaki, M. A., Nasution, I., & Dardanila, D. (2026). Elusidatori: Kritik Sosial dan Dekonstruksi Kuasa dalam Puisi “Tuhan Di Kedai Kopi” . DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 6(1), 979-987. https://doi.org/10.53769/deiktis.v6i1.3262
Section
Articles