Sentimen Negatif atas Kebijakan Prabowo Subianto dalam Komentar pada Akun Instagram Folkative

  • Khoirun Nisa Universitas PGRI Ronggolawe
  • Sri Yanuarsih Universitas PGRI Ronggolawe Tuban
  • I Wayan Letreng Universitas PGRI Ronggolawe Tuban
Keywords: Sentimen Negatif, Komentar, Instagram

Abstract

Sentimen negatif merupakan pandangan, emosi, atau sikap yang kurang baik terhadap suatu topik, produk, maupun layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketidaksantunan berbahasa dalam komentar warganet pada akun Instagram Folkative terkait kebijakan Prabowo Subianto, dengan menggunakan teori ketidaksantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Culpeper (1996) yaitu (1) ketidaksantunan secara langsung, (2) ketidaksantunan positif, (3) ketidaksantunan negatif, (4) sarkasme atau kesantunan semu, (5) menahan kesantunan. Fokus penelitian adalah untuk memahami pola ketidaksantunan tersebut dalam konteks interaksi digital, khususnya pada unggahan tentang kebijakan pemerintah di Instagram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi digital. Data berupa komentar yang mencerminkan ketidaksantunan berbahasa yang diambil dari unggahan populer Folkative mengenai kebijakan Prabowo Subianto pada periode November 2024 yang membahas tiga kebijakan utama, yaitu Investasi Luar Negeri, Kenaikan Gaji Guru, dan Program Makan Bergizi Gratis. Data dianalisis melalui pendekatan tematik untuk menemukan pola utama ketidaksantunan serta pendekatan pragmatik untuk memahami konteks dan makna komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ketidaksantunan berbahasa yang paling dominan adalah ketidaksantunan negatif, diikuti dengan sarkasme dan ketidaksantunan langsung. Komentar warganet banyak berisi kritik frontal, ejekan, serta sindiran sinis terhadap kebijakan pemerintah. Faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut meliputi skeptisisme terhadap transparansi kebijakan, ketidakpercayaan pada janji politik, serta kebebasan berekspresi di media sosial yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik tanpa batasan etika. Peneliti menyimpulkan bahwa ketidaksantunan berbahasa di media sosial mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Fenomena ini menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran etika komunikasi di ruang digital guna menciptakan interaksi yang lebih sehat dan konstruktif. Penelitian ini memberikan wawasan tentang dinamika komunikasi digital yang relevan dalam memahami hubungan antara masyarakat dan kebijakan pemerintah, sekaligus mendorong perlunya penguatan literasi digital untuk meminimalisasi ketidaksantunan dalam komunikasi daring, sehingga tercipta ruang diskusi yang lebih positif dan produktif.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Andi Saadillah, Andi Haryudi, Muhammad Reskiawan, & Alam Ikhsanul Amanah. (2023). Penggunaan Bahasa Sarkasme Netizen di Media Sosial. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 9(2), 1437–1447. https://doi.org/10.30605/onoma.v9i2.2367

Aviva, A. J., & Mulyani, W. (2022). Ragam Tulis Bahasa Gaul Dalam Kolom Komentar Media Sosial Intagram Lambe Turah. Prosiding Seminar Nasional Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 7(1), 578–585. http://prosiding.unirow.ac.id/index.php/SNasPPM

Irawati. (2023). Strategi ketidaksantunan sarkasme wargasnet pada kolom komentar Instagram Ganjar Pranowo Netizens ’ sarcasm impoliteness strategy in Ganjar Pranowo ’ s Instagram comment column Pendahuluan Penggunaan bahasa dalam media digital dewasa ini mempengaruhi cara. 6, 911–930.

Marzella, Rizal, K. (2024). Journal of Scientech Research and Development USE OF Instagram As A Media For Dissemining Information On. 6(1), 1929–1950.

Muhammad, R. N., S, L. W., & Tanggahma, B. (2024). Pengaruh Media Sosial Pada Persepsi Publik Terhadap Sistem Peradilan : Analisis Sentimen di Twitter. 7(1), 507–516.

Ratnawati. (2023). Strategi Ketidaksantunan Berbahasa Pada Kolom Komentar Media Sosial Instagram Akun Detikcom : 19–32.

Rizal Sukandi, Irwan Siagian, & Nadya Maharani. (2022). Analisis Kesantunan Berbahasa Pada Media Instagram (Kajian Pragmatik). ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Dan Budaya, 3(1), 137–155. https://doi.org/10.37304/enggang.v3i1.8369

Shafari, Mardiningsing, R. (2020). Kesantunan Berbahasa Pada Kolom Komentar Di Akun Twitter Prabowo Subianto: Kajian Pragmatik. 01(02), 56–62.

Siregar, A. R., Harahap, A., & Nasution, M. S. (2024). Etika Komunikasi Media Digital di Era Post-Truth. 5(1), 39–53.

Suryani, Y., Istianingrum, R., & Hanik, S. U. (2021). Linguistik Forensik Ujaran Kebencian terhadap Artis Aurel Hermansyah di Media Sosial Instagram. Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(1), 107–118. https://doi.org/10.32528/bb.v6i1.4167

Wildan, M. (2023). Sentimen negatif netizen dalam kolom komentar detik.com terhadap pemberitaan kasus Ferdy Sambo. Litera, 22(1), 26–39. https://doi.org/10.21831/ltr.v22i1.57870

Wulandari, Y. (2016). Analisis Bentuk Pelanggaran Maksim Tuturan Tokoh Cerpen Harga Seorang Perempuan Karya Oka Rusmini Sebagai Materi Otentik Pembentukkan Karakter. Jurnal Buana Bastra, 1, 1–114.

Yusuf, & Ahmadi. (2022). Kampanye Budaya Beberes di Media Sosial Instagram. Jurnal Riset Jurnalistik Dan Media Digital, 151–158. https://doi.org/10.29313/jrjmd.v2i2.1530

Published
2025-09-12
How to Cite
Khoirun Nisa, Sri Yanuarsih, & I Wayan Letreng. (2025). Sentimen Negatif atas Kebijakan Prabowo Subianto dalam Komentar pada Akun Instagram Folkative. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 5(3), 2721-2732. Retrieved from https://dmi-journals.org/deiktis/article/view/2102
Section
Articles

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 > >>